BERITA TERKINIHUKRIM

Kesaksian Dita Beratkan Iman, Dalam Kasus Suap Transmart Cilegon

SERANG- Kesaksian Mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon Akhmad Dita Prawira hadir di Pengadilan Tipikor Serang dalam kasus dugaan suap syarat rekomendasi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pembangunan Mall Transmart Cilegon 2016 itu membeberkan keterlibatan Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi. Kamis (20/12/2017)

 

Dihadirkannya Dita oleh jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi untuk terdakwa mantan Direktur Utama (Dirut) PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) Tubagus Dony Sugihmukti, Manager Legal PT KIEC Eka Wandoro Dahlan, dan Project Manager PT Brantas Abipraya (BA) Bayu Dwinanto Utomo.

 

Dalam sidang itu KPK juga menghadirkan enam saksi lain, yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Ujang Iing, staf DLH Kota Cilegon Indriani Widiastuti; ajudan Iman Ariyadi, Firman Nugroho; rekan satu partai Iman Ariyadi, Hendri; dan Kabid Pelayanan Perizinan dan non-Perizinan DPMPTSP Kota Cilegon Tunggul Simanjuntak.

 

“Pak Wali (Iman Ariyadi-red) pernah menyampaikan bahwa setiap investor dipandang perlu dan berpartisipasi aktif mendukung kearifan lokal, termasuk kegiatan persepakbolaan,” kata Dita di hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto.

 

Dita menjelaskan, kebijakan itu telah diberlakukan selama satu tahun. Dukungan investor itu diwujudkan melalui bantuan dana dalam bentuk sponsorship ke Cilegon United (CU). “Satu tahun lalu (disampaikan-red). Dititipkan (proposal sponsorship-red) maksimal 10 (ke DPMPTSP-red),” kata Dita.

 

Dan oleh karena itu, saat PT KIEC mengurus investasi di Kota Cilegon, Dita atas perintah Iman Ariyadi meminta PT KIEC mengucurkan dana sebesar Rp2,5 miliar dalam bentuk sponsorship. “Dari Pak Wali yang menyampaikan Rp2,5 miliar kepada investor, bentuknya sponsorship ke CU,” kata Dita.

 

Permintaan itu disampaikan Dita setelah PT KIEC meminta rekomendasi dari Iman Ariyadi selaku Walikota Cilegon agar dapat melakukan aktivitas pembangunan mall sembari menunggu izin Amdal diterbitkan.

 

“Aktivitas bisa dilakukan bila ada diskresi atau rekom dari pimpinan kepala daerah. Sebab, sering didemo oleh LSM dan masyarakat,” jelas Dita.

 

Atas persyaratan itu, Dita menyampaikan permintaan uang Rp2,5 miliar kepada Manager Legal PT KIEC Eka Wandoro Dahlan. Persyaratan itu disampaikan sebelum pelaksanaan peletakan batu pertama pembanggunan Mall Transmart.

 

“Tanggapan Pak Eka terlalu gede. Pemikiran saya pihak pemohon (PT KIEC-red) keberatan,” ujar Dita.

 

Seusai mendengarkan keberatan PT KIEC, Dita mendatangi kediaman Iman Ariyadi untuk menyampaikan langsung keberatan PT KIEC. Iman Ariyadi menurunkan nominal permintaannya menjadi Rp1,5 miliar.

 

“Habis isya saya temui Pak Wali (Iman Ariyadi-red), saya sampaikan kesanggupan PT KIEC Rp800 juta. Responsnya kurang begitu senang. Beliau tidak mau tanda tangan,” kata Dita.

 

Esoknya, Dita menghubungi Eka. Dia mengaku nyaris menyerah. PT KIEC dan PT BA setuju penambahan dana Rp700 juta dari PT BA. “Walikota maunya full (tidak dibagi dua Rp1,5 millar-red),” ujar Dita.

 

Pada 16 September 2017 Donny menyatakan akan mentransfer uang Rp700 juta ke rekening Cilegon United. “Saya tidak tahu (transfer uang-red). Saya tidak kontrol,” kata Dita.

 

Pada 22 September 2017, Dita mendapat laporan dari stafnya ada penggeledahan. Awalnya, Dita menyangka penggeledahan dari Polda Banten. Namun, belakangan diketahui penggeledahan dilakukan oleh penyidik KPK. “Surat rekomendasi belum diberikan kepada PT KIEC. Pada hari H (OTT KPK-red) Pak Wali tidak berada di tempat,” kata Dita.

 

Sementara, Kepala DLH Kota Cilegon Ujang Iing mengaku pernah diminta Dita terkait rekomendasi amdal PT KIEC agar ditahan. “Ada titipan Pak Dita. Beliau berkata rekomendasi LH (BLH Kota Cilegon-red) jangan ditandatangani dulu. Nunggu pimpinan, pimpinannya Walikota,” kata Ujang.

 

Namun, diakui Ujang, rekomendasi dari BLH Kota Cilegon belum diterbitkan bukan hanya karena ada permintaan Dita, melainkan PT KIEC belum memenuhi persyaratan. “Ada persyaratan dan prosedur yang masih kurang,” kata Ujang.

 

Sementara Hendri mengelak telah diperintahkan Iman Ariyadi terlibat dalam pengurusan perizinan Mall Transmart dan permintaan uang suap. Dia berdalih, keterlibatannya dalam perkara itu lantaran diminta bantuan kerabatnya yang bekerja di PT BA. “Saya tahunya dari Pak Dita,” kata Hendri.

 

Dia mengaku bersedia membantu pengurusan izin pembangunan Mall Transmart karena dimintai tolong Eka. “Saya bawa Pak Eka ke Pak Dita,” kata Hendri.

 

Menanggapi kesaksian Dita yang memberatkan Iman, kakak kandung Tb Iman Ariyadi, Ratu Ati Marliati saat dimintai tanggapannya enggan berkomentar. (S.I)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close