BERITA TERKINIHUKRIMSERANG

Dituntut 7 Tahun Penjara, Eks Direktur RSU Banten Menangis

SERANG, PetaBanten- Setelah dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Serang yang menuntut 7 tahun penjara dan denda Rp100 juta serta uang pengganti Rp1,3 miliar, eks Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Banten drg. Dwi Hesti Hendarti tertunduk lemas dan tak kuasa menahan tangis.

 

Terdakwa Dwi dinilai telah terbukti merugikan uang negara dalam kasus korupsi penyelewengkan dana Jasa Pelayanan (Jaspel) tahun 2016 senilai Rp 2,398 miliar.

 

“Kita meyakini, terdakwa ini menyalahkan kewenangan selaku pengguna anggaran,” kata JPU Subardi, usai sidang di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa (2/1/2018).

 

Dalam hal ini, Dwi diyakini melanggar Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Terdakwa dianggap telah menyalahgunakan wewenang dan melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu koorporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

 

Diketahui, sebelumnya terungkap dalam persidangan bahwa dana Rp 2,398 miliar itu digunakan Dwi untuk kepentingan persiapan akreditasi RSU Banten dan keperluan lain. Penyelewengan dana Jaspel Rp 2,398 miliar ini dilakukan Dwi dengan cara memindahkannya ke rekening para direksi RSU Banten.

 

Jaksa Penuntut Umum Kejari Serang yang diketuai oleh AR. Kartono, di hadapan ketua majelis hakim Sumantono mengatakan terdakwa Dwi Hesti Hendarti RSU Banten sendiri telah mengalokasikan pagu anggaran sebesar Rp 344.436.740 untuk kepentingan akreditasi rumah sakit.

 

Dan pagu anggaran tersebut telah dianggarkan dalam dokumen pelaksanaan perubahan anggaran (DPPA) SKPD Nomor: 1.02.03.01.23.15.5.2 tanggal 21 Oktober 2016.

 

Dana untuk Jaspel RSU Banten tahun 2016, dijelaskan AR. Kartono, telah dianggarkan Rp 17.872.705.241 dari Rp 41.182.933.475. Terdakwa mengeluarkan SK tersebut untuk memperjelas pembagian insentif untuk jasa pelayanan RSU Banten.

 

Dari 44 persen dana Jaspel yang dianggarkan 6,2 persen sampai 6,3 persen ditransfer kepada empat direksi termasuk terdakwa. Sedangkan tiga direksi lain yang menerima uang tersebut yakni Wakil Direktur Penunjang Madsubli Kusmana, Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan Lilianni Budiyanto dan Wadir Kesehatan Iman Santoso. Keempatnya menerima dana jaspel dari bulan Juni sampai dengan Desember 2016.

 

Setelah ditransfer ke rekening tiga wakil direktur selanjutnya sebagaian besar dana jaspel tersebut diserahkan ke terdakwa. Penyerahan dilakukan dengan cara tunai dan transfer melalui rekening BJB milik terdakwa dengan nomor rekening 0123210124881.

 

Akibat perbuatannya tersebut, terdakwa dituding JPU telah mengakibatkan kerugian negara dengan memperkaya diri sendiri dan orang lain sebesar Rp2.398.749.373,87. Jumlah tersebut berdasarkan laporan hasil audit dalam rangka perhitungan kerugian negara atas kasus dugaan korupsi dana Jaspel tahun 2016 oleh Inspektorat Provinsi Banten. (S.I)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close