BERITA TERKININASIONALOPINIPENDIDIKAN

Perempuan Hebat Memikul Tanggung Jawab Besar

Oleh: Octy Avriani Negara (ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu, 2014-2015)

 

Petabanten.com – Sejak gagasan woman’s lib gencar disuarakan, semakin banyak kaum perempuan yang menduduki posisi strategis yang hampir menyamai peran laki-laki di sektor publik. Gagasan seperti itu biasa kita kenal dengan emansipasi wanita. Gelombang gerakan emansipasi-feminisme ini lahir dari rahim ketidakpuasan kaum wanita atas pemasungan hak-hak dan kebebasan mereka. Akhirnya mereka berontak.

 

Ada sebuah pertanyaan.

 

“Apakah mungkin seorang perempuan bisa dikatakan hebat bila ambisinya menyaingi laki-laki dalam semua peran?”

 

Jargon-jargon emansipasi yang diusung oleh penganut feminisme membuat kaum perempuan percaya (baca: tertipu) bahwa selama ini mereka tertindas oleh laki-laki dan mereka harus bangkit melawan hegemoni dan penindasan itu. Serta merebut kembali hak mereka.

 

Lalu dengan angkuhnya gerakan emansipasi-feminisme dan berbagai derivatnya menunjuk Islam sebagai penindas perempuan. Padahal faktanya, penindasan itu adalah warisan peradaban masa lampau. Jauh sebelum Islam datang.

 

Muncullah dalam benak kaum wanita untuk berlari sama kencang dan berdiri sama tinggi bersama kaum pria. Pemikiran demikian menjangkiti kaum muslimah, jadilah mereka terobsesi dan penuh berambisi menyamai dan menyaingi laki-laki dalam semua peran terutama di sektor publik.

 

Kaum wanita/muslimah yang termakan jargon dan doktrin kesetaraan belomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi diri. Sehinggga sering kita jumpai seorang wanita pekerja (full time job) mengabaikan perannya sebagai istri dan ibu.

 

Misal seorang istri dengan nafkah yang cukup bahkan lebih, malah merasa harus seperti suami. Bekerja keras dan dapatkan penghasilan sendiri sehingga tidak menggantungkan diri kepada sang suami. Institusi pernikahan telah berubah menjadi gelanggang perlombaan. Suami gak digandeng malah ditantang. Kewajiban-kewajiban sebagai istri terabaikan. Efek dominonya pada seluruh anggota keluarga.

 

Dia seorang ibu tapi menitipkan anaknya kepada pengasuh. Anak lebih dekat dengan “ibu sintesisnya” daripada ibu kandungnya. Jika seorang wanita sebagai istri dan seorang ibu telah terjangkit penyakit emansipasi maka salah satu pilar keluarga sudah keropos. Tidak akan terlahir orang-orang hebat.

 

“Lalu sebenarnya perempuan hebat yang tetap bisa berambisi itu yang bagaimana?”

 

Kalo yang ini perempuan secara umum yah. Adalah perempuan yang dalam ambisi, cita dan visi kehidupannya senantiasa melibatkan Allah swt. dalam setiap aktivitasnya. Bukan karena manusia yang ujungnya melahirkan riya’, gengsi, dll. Pendek kata, niat dan cara sesuai syara’. Sebesar dan setinggi apapun ambisi manusia kalau Dia katakan “Bukan” maka pasti bukan. “Tidak” maka tidak akan terwujud.

 

Kalau bagaimana dengan perempuan hebat namun tetap berambisi atau memiliki mimpi-mimpi besar, maka kita bisa berkaca kepada perempuan-perempuan hebat yang dicatat sejarah. Khusunya para muslimah. Pertama, ambisi mereka jangka panjang sampai hidup setelah mati. Kedua, landasan atau penggerak mereka adalah keimanan. Ketiga, cara yang ditempuh tidak bertentangan dengan poin kedua.

 

“Bagaimana jalan keluar bila ada perempuan yang ingin tetap berkarir, menyejehterakan masyarakat tapi tetap bisa membesarkan anak dan suami?”

 

Pertanyaan ketiga ini berat. Sebab untuk menjawabnya diperlukan realitas yang dihadapi dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai saya menjawabnya hanya dengan berdiri diatas bayang-bayang dan asumsi. Saya hanya memaparkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki.

 

Pertama, menyejahterakan masyarakat bukan tugas individual apalagi tugas seorang perempuan. Itu adalah tugas dan peran negara. Mungkin maksudnya berkontribusi dalam masyarakat. Kalau yang ini perempuan juga harus turut berperan. Sebab, wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama dan memiliki perannya masing-masing tanpa ada yang dilebihkan dari salah satunya.

 

Kedua, perempuan itu mengemban banyak peran. Sebagai istri dan ibu. Juga sebagai bagian dari umat atau masyarakat. Mereka juga turut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat utamanya dalam aktivitas amar ma’ruf nahimunkar. Peran-peran itu tidak mudah.

 

Dalam menjalankan segudang peran itu, maka harus didudukan hukum masing-masing. Dahulukan yang wajib baru sunah atau mubah. Mengurusi keluarga hukumnya wajib sementata kerja diluar rumah mubah. Maka pilihlah yang utama.

 

Untuk sukses dalam semua peran, khususnya setelah menjadi istri dan ibu, ada beberapa persiapan besar. Satu, cari calon suami yang sefrekuensi, satu visi dan misi. Ini bekal kedepan utamanya dalam komunikasi dan saling memahami atas pilihan-pilihan kita. Kedua, tanam dan yakinkan diri kita bahwa pilihan yang kita ambil apapun itu adalah benar. Ketiga, manajemen waktu. (*Red)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close