BERITA TERKININASIONALOPINIPENDIDIKAN

Perempuan dan Kegelisahannya: Perempuan, Selalu di Salahkan?

Oleh: Octy Avriani Negara

Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu 2014-2015.

Petabanten.com – Fenomena yang terlalu kerap dibicarakan publik dengan semena-mena. Bukan aib yang mereka sebarkan, bukan pula kabar tak enak yang dikonsumsi jadi enak, tetapi lebih kepada penderitaan seorang insan manusia dalam perannya sebagai seorang perempuan. Saya, sebagai seorang perempuan, tidak ingin hanya (sok) berempati dan bersimpati belaka. Saya, perempuan, juga turut mengalaminya, secara tidak langsung. Sesungguhnya, ini adalah peristiwa yang sangat mungkin menimpa tiap perempuan di muka bumi, termasuk saya sebagai salah satu diantara perempuan-perempuan itu.

Pemerkosaan. Perkosaan. Pemaksaan. Klasik, tapi semoga tidak terlalu klise pemaknaannya. Segala hal yang bersifat pemaksaan (kehendak) sebenarnya termasuk pemerkosaan. Pemaksaan keinginan untuk mengetahui urusan personal manusia lain: pemerkosaan privasi. Pemaksaan kehendak untuk membenarkan apa yang diyakini: pemerkosaan ego. Pemaksaan untuk berbuat yang menguntungkan diri sendiri namun merugikan pihak lain: pemerkosaan moral. Seperti itulah.

Pemerkosaan yang saya maksud disini adalah pemerkosaan secara tersurat, apa adanya, seutuhnya. Ketika seorang laki-laki memaksakan kehendak syahwatnya pada selangkangan perempuan yang sama sekali tidak menginginkannya, apalagi membutuhkan. Pemerkosaan yang tidak pandang konteks, tidak pandang fisik, dan tak pandang resiko serta konsekuensi beberapa waktu setelahnya. Pemerkosaan seada-adanya pemerkosaan: suatu perbuatan yang terasing dari pertanggungjawaban dan hanya berlangsung dalam waktu singkat, demi kepuasan seksualitas yang terpancang di tiang paling egois seorang laki-laki.

Saya terusik, oleh peristiwa ini, oleh pelajaran dari Tuhan ini. Seseorang yang saya kenal di tempat menuntut ilmu dalam taraf akademik, yang meskipun tidak mengenal dekat secara personal, namun dalam beberapa kesempatan saya mengenal kepribadiannya karena pernah sekelas, tertimpa musibah pemaksaan seksual ini. Saya tidak ingin menggarisbawahi siapa yang salah, siapa yang benar; mungkin, saya hanya berusaha menegaskan keadilan dan mencoba memahami apa yang dialami oleh korban. Karena bahwasanya, saya pun adalah korban. Karena saya juga adalah seorang perempuan. Dan sebagai perempuan, saya tahu betul peliknya pelecehan (dan kekerasan) seksual, terlebih dalam kasus ini yang berakibat fatal, baik fisik maupun psikis.

Sudah bukan rahasia umum lagi, kalau kita hidup di dunia patriarki, dunia yang selalu memihak dan menganggap yang (paling) benar adalah lelaki. Bayangkan, betapa mirisnya, ketika korban pemerkosaan masih harus jadi korban pelecehan publik dan perebutan hak atas privasi! Minimnya perlindungan terhadap korban, terutama terhadap perempuan, adalah satu diantara sekian banyak yang mengusik batin saya untuk menggerakkan jari-jemari, sebatas meneriakkan kata-kata ini untuk mengeluarkan apa yang membebani benak saya selama ini.

Tersadari ataupun tidak, kadang, secara refleks, kita cenderung dikondisikan untuk menyalahkan korban. Karena (katanya) lelaki tidak akan berbuat kalau tidak tergoda/digoda oleh si perempuan. Karena (katanya) lelaki akan segan kalau si perempuan berpakaian sopan. Karena (katanya), pemerkosaan tidak akan terjadi kalau si perempuan tersebut alim. Coba tengok faktanya! Lihatlah sekitar. Perempuan yang menutup seluruh auratnya dengan pakaian longgar pun masih menjadi korban pelecehan seksual. Bahkan kebanyakan dari korban berpakaian sopan dan tidak memamerkan bentuk lekuk tubuh, tidak seperti perempuan tuna susila yang memang sengaja menjual tubuhnya yang telah mendapat label baru ‘komoditi seksual lelaki’, misalnya.

Saya selalu terusik karena membahas persoalan ini seolah takkan pernah ada habisnya. Terlebih dengan adanya pemberitaan para jurnalis yang kadang tidak faktual, bahkan melebih-lebihkan realitas yang ada, membuat masyarakat semakin kehilangan harkat dan martabatnya dalam memanusiakan manusia lain. Memangnya siapa yang mau mengalami kejadian sepelik ini? Pikirkanlah, mana mau jika saudara perempuan, ibu, tante, adik, sepupu, yang kita kenal dan merupakan bagian dari keluarga, tertimpa oleh peristiwa yang tak terelakkan, seperti ini?

Tidak ada yang bisa mencegah terjadinya pemerkosaan, selain Tuhan. Tidak ada yang bisa membuat lelaki berhenti memiliki nafsu terhadap perempuan, yang sama sekali tidak berniat menggoda kelaminnya, selain Tuhan. Kita, sebagai manusia, tidak dapat mencegah terjadinya apapun, tidak dapat pula menghukum yang bersalah diluar kapasitas kita sebagai masyarakat sipil dan bukan merupakan pihak yang berwenang. Yang bisa kita lakukan hanyalah, dalam kemampuan dan keterbatasan sebagai manusia, adalah ‘mencoba’ memahami dan mengerti keadaannya, mengambil pelajaran daripadanya, melindungi dan mendampingi perempuan (yang dalam kasus ini adalah korban) serta berusaha untuk tidak menikam pelaku dengan dakwaan membabi-buta, melainkan dengan hukuman pidana dan ganjaran sosial yang sepantas-pantasnya. Saya rasa, kemaluannya sudah cukup untuk mempermalukannya, tinggal bagaimana kita mempertahankan rasa malu tersebut menjadi sebuah sanksi sosial. Bagaimanapun, kita turut andil dalam peristiwa ini, entah sebagai penonton, penyemarak, pemerhati, pemberi bantuan atau pendukung. Lakukanlah, hal yang bisa dilakukan, untuk menghargai kehidupan, melindungi sesama manusia, merangkul yang lemah dalam ketidakberdayaannya mengatasi masalahnya.

Contoh, sebagai perempuan, sudah tidak terhitung berapa kali saya mengalami pelecehan seksual. Secara verbal misalnya, ketika disiuli oleh lelaki tengil di jalan, yang tak dikenal, sementara saya sedang berjalan kaki melintas di depannya dan tak ada intensi sama sekali untuk menggodanya, apalagi membuatnya jadi ingin memperkosa; sudah merupakan tindakan melecehkan secara seksual. Pun ketika ada lelaki yang saya kenal sebagai tetangga, mengeksploitasi tubuh saya, diluar kendali saya sebelum akhirnya bisa menghindar dan melarikan diri, ketika saya bahkan belum akil balig. Juga, ketika ada lelaki tak beridentitas dengan wajah mesum, berusaha untuk menguasai tubuh saya, bahkan ketika saya mengenakan seragam sekolah yang sangat tertutup, di angkutan umum. Banyak. Selalu saja, perempuan ini barangkali memang sudah ditakdirkan untuk membeku dan memiliki lidah kelu, sehingga tidak mampu berbuat apapun untuk pembelaan (harga) keselamatan dirinya, selalu saja terdesak dan terjepit dalam belenggu patriarki yang memang sudah sedemikian adanya dan entah kapan bisa berubah untuk sedikit saja setara.

Ingatlah, tidak perlu memiliki wajah dengan dandanan dan aksen seronok, maupun tubuh semok. Cukup dengan menjadi seorang perempuan saja, ya, ‘perempuan’, sudah sangat bahkan lebih dari cukup menjamin sebagai seorang korban kelak, dalam konteks dan kondisi bagaimanapun. Jadi, jangan pernah menyalahkan korban, korban tetaplah korban. Dalam segala ketidakberdayaannya, kami, perempuan, para korban, masih harus mendeskripsikan peristiwa paling nista dalam hidup dengan sejelas-jelasnya kepada aparat berwenang, ‘hanya’ untuk menebus hak akan keadilan. Ditambah dengan pengumbaran media yang memperparah segalanya. Kemudian mendapat sangsi sosial karena dianggap kami ‘pantas’ menerimanya. Adilkah? Entah. Sebuah pertanyaan yang mungkin takkan ada jawabannya.

Kita, mungkin, belum bisa untuk memperbaiki keadaan. Hal yang bisa dilakukan juga mungkin terlalu sedikit. Kontribusi pun tak selamanya bisa menjadi pemecahan masalah. Tapi satu yang bisa kita lakukan sebagai manusia: manusiakan sesama manusia di sekeliling kita, hargailah perempuan selayaknya kita menghargai ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Berikan dukungan dan doamu sebagai manusia, pada korban-korban dan para perempuan diluar sana, terutama yang belum memperoleh keberanian untuk menuntut hak atas hidup dan tubuhnya sendiri. Hargai peran, keberadaan dan kedudukan perempuan, adalah serupa dengan menghargai kehidupan di alam semesta. Mari, kita hargai hidup lebih dari apa yang pernah kita lakukan sebelumnya. Mari, dukung perempuan bertumbuh ranum dalam kemanusiaan cendekia, secara bijak.

Wahai para perempuan, jangan pernah lelah mendayagunakan seluruh kemampuan.

Jangan pernah menyerah kalah dalam keterpurukan.

Maafkan, karena hanya bisa sebatas menyumbang tulisan.

Semoga, suatu saat nanti, kita bisa menjadi seutuhnya seorang puan.

Tertanda, bagian dari kalian, para perempuan

(*Octy Avriani Negara)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close