BERITA TERKININASIONALOPINIPENDIDIKAN

Musyawarah Nasional KOHATI ke XXIII

Oleh: Octy Avriani Negara Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu 2014-2015

Petabanten.com – Musyawarah Nasional KOHATI ke XXIII di Ambon adalah ajang di mana ide dan gagasan dipertentangkan untuk melahirkan suatu ide dan gagasan yang paling mendekati ideal. Seperti itulah munas itu. Atau Seharusnya seperti itu. Kenyataan di lapangan, seringkali malah melabrak gambaran-gambaran ideal. Sebab ada tarik menarik antara satu individu dengan individu yang lain. Antar satu kelompok dengan kelompok yang lain. Pergesekan demi pergesekan terjadi. Tidak jarang pergesekan tersebut memantik api yang membakar habis semuanya; idealisme, persaudaraan, dan bahkan kehormatan. Ketika semuanya telah hangus tak bersisa, upaya penyelamatan tidak akan berguna lagi. Sebab apakah lagi yang akan diselamatkan di tengah kondisi seperti itu?

Para kader mulai melihat dan dididik oleh pengalaman buruk mengenai Kongres dan Munas, yang penuh dengan dagelan politik dan drama-drama perebutan kekuasaan. Jika sang kader bukan tipikal yang berkarakter kuat, keburukan tersebut akan diresap oleh dirinya sebagai budaya yang akan dia wariskan kepada generasi mendatang. Jadilah keburukan tersebut lingkaran setan yang diwariskan turun temurun. Awal-awalnya disikapi dengan skeptis, lalu kemudian diterima dengan kompromistis, lalu pada akhirnya diterima dengan lapang dada sebagai bagian dari karakter organisasi. Generasi selanjutnya tidak akan lagi ambil pusing apakah sesuatu itu penting ataukah tidak, perlu ataukah tidak. Mereka hanya menetapkan bahwa sesuatu itu harus ada sebagai bagian dari jati diri organisasi.

Dagelan politik dan dramatisasi adalah tindakan konyol pada situasi yang hampir menyentuh titik nadir seperti ini. Selain juga merupakan tindakan kekanak-kanakkan. Permainan sandiwara yang menggiring suatu kepentingan politik tertentu, pada akhirnya akan menghalangi tumbuhnya ide-ide baru, gagasan-gagasan segar yang seyogyanya datang dari pikiran-pikiran tajam dan jernih kader-kader terbaik Himpunan. Sebab ide-ide dan gagasan-gagasan tersebut terhalang oleh kepentingan politik yang membelenggunya. Jadilah kejujuran hati untuk mengutarakan ide-ide dan gagasan-gagasan yang benar malah dikalahkan oleh semangat sandiwara demi menjaga kepentingan politik.

Jadi rasa-rasanya seperti sudah terlambat ketika ada seorang dua orang yang ingin mengubah arah Himpunan (red KOHATI) agar kembali ke jalan yang seharusnya. Seringkali malah niat baik tersebut disalahartikan dan disalahpahami, lantas dituding sebagai bagian dari politik praktis yang pragmatis dan temporal. Tudingan seperti itu tidak salah, jika mengingat kekecewaan yang lahir dari pengkhianatan yang begitu terang. Namun menyalahkan seseorang dan menghalanginya mewujudkan niat baiknya dikarenakan kesalahan yang dilakukan orang lain yang kebetulan punya ikatan dengannya bukanlah pilihan yang bijak. Apalagi jika semua itu hanya prasangka yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu yang memang memiliki tujuan buruk.

Maka dari itu dibutuhkan kesadaran kolektif yang lahir dari dialektika yang sehat untuk bisa menggerakkan KOHATI ke arah yang lebih baik. Tidak hanya kesadaran satu dua orang saja. Di sinilah letak kesulitannya. Menyatukan persepsi akan kebenaran bukan hanya membutuhkan proses yang lama dan melelahkan, namun juga berdarah-darah. Masing-masing memiliki egoisme, baik ego sektoral kelembagaan maupun pribadi. Akan menjadi masalah yang sangat serius jika ego tersebut malah menjadi bahan bakar tindakan-tindakan yang melabrak aturan dan menodai etika. Menciderai karakter seorang mahasiswa yang seharusnya berpendidikan dan berkeadilan, terlebih-lebih karakter seorang muslimah yang seharusnya santun dan saleh.

Siti fatimah siagian lahir menjawab kegalauan KOHATI hari ini, bukan tanpa alasan kakak kami hari ini ikut bertarung merebut 01 KOHATI PB HMI. pengalamannya sebagai Kabid PAO dan Ketua BPL membuat kami yakin kalau beliau bisa mengembalikan lagi arah gerak KOHATI ke khittah nya. Mari kita bersama-sama mensukseskan Munas Kohati ke XXIII di Ambon dengan cara Vote no urut 5. cerdas, Tegas dan Berintegritas. (*Red)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close