BERITA TERKININASIONALOPINIPENDIDIKANSOSOK

Berfikirlah, perempuan!

Oleh: Octy Avriani Negara

Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu 2014-2015

PetaBanten.com – Saya memang turut memperhatikan. Sedih sekaligus merasa punya kewajiban untuk membela perempuan.

Tapi saya nggak minat untuk ikut barisan anti-pelakor lantas berdiri membela para istri.

Saya nggak minat untuk membela tokoh sefenomenal Maya atau belakangan ini (ramenya sih) si Bu Dendy , atau siapapun perempuannya yang dianggap “KORBAN PELAKOR” dengan cara memberi PEMBELAAN yang membabi-buta.

Rasa peduli pada kaum PEREMPUAN adalah alasan utamanya.

Apalagi mereka DIKENAL sebagai korban dalam pernikahan.

Terlepas dari benar atau tidaknya, tapi kan begitu ya RAMENYA?

Tapi, semestinya kepedulian disetarakan juga dengan cara TURUT peduli pada para perempuan yang diberi cap “pelakor” tersebut.

Saya gak ingin MEMBIASAKAN DIRI membela siapapun dengan CARA yang membabi –buta, apalagi kalau sampai dengan cara menghujat “semoga pelakor kena karma!” seperti yang biasanya dilakukan oleh orang-orang.

Meski saya sendiri sebenarnya sangat percaya bahwa KARMA itu ada, atau apapunlah bahasa lainnya didalam agama.

Hanya saja, semestinya ya gak disampaikan dengan cara membully di media sosial, menghujat dan memaki-maki secara PERSONAL.

MEREKA MANUSIA juga lho!

Manusia PASTI SALAH lho!

Saya tidak BERHAK membully, pun semestinya juga tidak BERKEWAJIBAN membela, apalagi jika ITU dilakukan di SOSIAL MEDIA.

SIAPAPUN SEHARUSNYA JUGA.

Meski saya tahu betapa “menyenangkannya” menghukum secara sosial atas tindakan amoral. Tapi saya masih percaya sih bahwa saya gak se-lapar itu untuk terus-menerus memakan bangkai saudara, seriusan deh, saya mending makan nasi padang dibanding ngebuka aib orang-orang.

Absurd kan? Ya sebagaimana absurdnya logika berfikir orang-orang.

Karena saya PERNAH dituduh sebagai pelakor juga, saat ISENG turut memberi komentar di LAMBE-itu.

Saya rasa ini teori mutlak yang berlaku dimasyarakat umum deh!

MEMBELA PELAKOR sama halnya dengan PELAKOR.

Padahal, saya HANYA berduka saja atas nasib para PEREMPUANNYA.

Kenapa?

Ya jelas karena mendapat perlakuan yang amat berbeda dengan para lelakinya.

Jika perempuan yang berbuat salah, duh nasibnya dihujat habis-habisan.

Sementara para lelakinya?

Ya, masih bisa SANTAI (ngeroko – ngopi – ongkang-ongkang kaki, fix ini drama) tanpa perlu khawatir DIHAKIMI seperti nasibnya para pelakor tersebut.

Bahkan ada juga lho yang masih DITERIMA dan balikan LAGI sama istri.

Dan dibela – didukung oleh para PEREMPUAN lainnya pula!

Jadi gimana?

ADIL dan SETARA gak martabat perempuan dimata para perempuan itu sendiri?

Begitulah nasib para pelakor (PEREMPUAN) di indonesia.

AMAT berbeda perlakuannya dengan para suami (LELAKINYA), yang justru lebih minim hujatan dan seperti seolah DIABAIKAN.

Pokoknya seolah “nggak salah ajah..”

Sementara itu, para perempuan yang membela dan berdiri dibarisan anti pelakor akan mati-matian membela dan berharap keadilan bagi istri sah yang dihianati.

ADIL kah?

ADIL untuk memenuhi emosi temporer, tapi tidak untuk kesetaraan!

SANGAT tidak adil bagi kaum perempuan (jika kalian mau memandang dari sudut pandang perempuan yang tidak umum ya?)

Kenapa?

Cobalah berfikir bahwa:

JIKA perempuan PANTAS dicap buruk, BUKANKAH seharusnya lelaki juga PANTAS mendapat cap buruk?

Jika memang ada orang-orang seperti saya yang menganggap bahwa “tuduhan jahat hanya ke perempuan” menjadi masalah.

Saya yakin sebenarnya ada masalah yang jauh lebih harus diperhatikan yakni mengenai “motivasi perselingkuhan”.

Banyak yang bilang bahwa “MUNGKIN istri dirumah yang sudah tidak menarik lagi” ini jelas salah. Salah karena mengesampingkan peran perempuan yang seumur pernikahannya barangkali telah berjuang habis-habisan.

Jadi salah siapa?

Apa karena perempuan lain ITU yang merayu?

Apa karena si suami yang sudah bosan sehingga mengkhianati pernikahan?

Atau salah siapa?

Sibuk mencari salah siapa, barangkali memang bukan salah siapa-siapa!

Perselingkuhan didalam pernikahan terjadi karena ada “yang salah” diantara suami dan istri, atas “apapun itu”. SAYA NGGAK TAHU, YANG MENJALANI PERNIKAHAN YANG SEHARUSNYA LEBIH TAHU.

Saya hanya tahu bahwa didalam pernikahan tidak selalu happy dan tidak selalu menyenangkan.

Bahwa kadang ada didalam masa-masa sulit, dan tentu saja semua fase ini dipengaruhi oleh faktor MANUSIA nya yang menjalani pernikahan tersebut.

Atas apapun fase yang terjadi, baik pengaruh dari masalah ekonomi, campur tangan keluarga besar, bahkan misalnya “godaan-godaan tertentu”, ya semua itu tentunya berasal dari FAKTOR LUAR!

Perihal menyikapi, kembali ke dua orang manusia yang menjalani pernikahan.

Ketika dua orang manusia yang amat berbeda bersatu dalam suatu hubungan, tentu saja ada kesulitan dalam menyikapi perbedaan.

Tentu saja harus saling pengertian agar rumah tangga tetap HARMONIS.

Tentu saja harus ada kesetaraan perihal hak dan dalam upaya memenuhi kewajiban, yang tentu saja harus dilakukan demi melanggengkan kebersamaan agar menua bersama.

Jadi ya, harus SETIA!

Tentu saja diri sendiri juga harus mampu membahagiakan diri, sekaligus untuk membahagiakan pasangan.

Tapi apa cukup “aku bahagia sama kamu” lantas berhenti dititik itu?

Apa iya hubungan akan tetap baik-baik saja ketika sudah bahagia?

Apa iya masalah tidak akan muncul setelahnya?

Adakah jaminan bahwa baik pihak suami maupun istri tidak akan selingkuh?

Apakah setiap pria pasti selingkuh jika ada kesempatan untuk melakukan itu?

Tidak ada yang pasti didunia ini.

Tidak harus lelaki perhatian, lelaki alim, lelaki yang terlihat baik-baik saja dan selalu membahagiakan istrinya, tidak PASTI selalu setia.

Sebagaimana mestinya hal ini juga berlaku kepada para perempuan juga, tapi saya tidak akan membahas perempuan ya.

Saya akan fokus ke lelakinya saja.

Karena memang HAL ini yang SEHARUSNYA juga dibicarakan!

PERSELINGKUHAN terjadi karena ada PROSES.

Proses yang tidak terjadi BEGITU SAJA karena PASTI diawali dengan adanya kesempatan dan melalui tahapan-tahapan.

Jika seseorang MEMANG memiliki KEMAUAN untuk selingkuh, maka itu artinya dia SADAR bahwa dia akan MENGKHIANATI PERNIKAHAN.

Karena SADAR, maka semestinya juga tahu bahwa HARUS DIHENTIKAN sebelum BERLANJUT.

Lalu, jika tidak dilakukan juga?

Nah itulah, kemudian terjadilah, yang jika ketahuan? Tinggal ngeles saja: KHILAF.

Padahal? DUSTA.

Dalam proses yang tidak sebentar?

Dalam kesadaran yang ada?

Dalam pilihan yang ada?

Mungkinkah benar-benar KHILAF?

Tapi, jauh sebelum membahas ke bagaimana proses perselingkuhan BISA terjadi, saya perlu membagi-bagi alasan kenapa seseorang bisa selingkuh.

Alasan umum pertama, untuk SEKS.

Kedua, hanya karena KENYAMANAN.

Alasan umum pertama, saya tidak akan menuduhkan kepada kaum lelaki saja, meski alasan ini yang paling dominan, apalagi bagi mereka yang sudah menjalani pernikahan.

Alasan kedua yang lebih banyak mendorong perbuatan mengkhianati pernikahan, karena memang KENYAMANAN itu yang biasanya didapat saat tidak bersama pasangan, melainkan bersama si IDAMAN LAIN ini.

Saya belajar bahwa:

Ketika seorang lelaki mencari PEMENUHAN HASRAT kepada perempuan selain istrinya, maka pasti ada “sesuatu” yang mendasari perbuatannya.

Ada yang bilang bahwa semua ini diawali dengan tidak adanya komitmen dan rasa tanggungjawab terhadap PERNIKAHAN.

Tapi ada juga yang BILANG bahwa:

“Ya namanya juga perasaan, bisa muncul kesiapapun – dimanapun”

Jadi, tidak adakah ketegasan sikap?

Apakah yang harus dilakukan jika memang “sudah terlanjur mencintai dia”?

Apakah akan tetap melindungi hubungan pernikahan ataukah akan TETAP MELANJUTKAN keinginan yang “sudah terlanjur mencintai dia” itu?

Jauh sebelum membahas SOLUSI atas persoalan CINTA yang sesulit itu, saya rasa perlu mengesampingkan atas apapun keputusannya.

Karena sebenarnya, atas apapun juga, MANUSIA senang mendahulukan EGO-nya jika tidak sanggup MELOGIKAKAN SITUASI yang tengah dihadapinya.

Berfikirlah sebelum memutuskan.

Sudah? Lanjut kebawah..

Sebagai perempuan, saya dan kamu ketika menjalin hubungan dengan seseorang tentulah mengingingkan “hubungan yang UTUH secara lahir dan batin” seperti keinginan untuk memenuhi tanggung jawab secara setara dan menyadari atas hak masing-masing juga.

Bahwa ketika ini semua dipenuhi, maka harapannya kedepan adalah:

Tidak mudah diganggu oleh IDAMAN LAIN oleh masing-masing.

Banyak cara untuk terlibat aktif dalam upaya mencegah PERSELINGKUHAN, contohnya meningkatkan kualitas hubungan.

Lebih fokus dalam upaya membahagiakan pasangan ketimbang MENCURIGAI “kamu ngapain saja?” begitu.

Atas banyaknya cara lain, tentu saja harus disesuaikan dengan BAGAIMANA selama ini pasangan lebih nyaman dalam menggunakan BAHASA CINTANYA. Karena memang setiap manusia itu berbeda-beda “caranya”.

Tapi saya yakin bahwa hanya ada satu HAL yang membuat hubungan berjalan buruk, yakni KETIDAKPERCAYAAN, yang berbanding lurus dengan KECURIGAAN.

Rasa “tidak dipercaya” mendorong seseorang untuk enggan lagi berbagi cerita, dalam hal ini meningkatkan resiko untuk si pasangan tadi berbagi cerita dengan “idaman yang lain itu” MAU begitu?

Melindungi rumah tangga adalah kewajiban dua orang, jadi kalau niatnya memang untuk melindungi, saya rasa CARAnya juga harus BAIK.

Memperjelas apa saja KEWAJIBAN dan HAK pada diri sendiri dan pada pasangan kita pasti akan lebih memperkuat HUBUNGAN.

Trust me, it works in my JUNJUNGAN!

Saya nulisnya sekarang karena sadarnya sekarang, dan kalau sadarnya belakangan, agak bahaya juga sih, tar dikira KEJADIAN di saya lagi, padahal kan, ini semua hanyalah hasil dari pemikiran perempuan semuda ini. Haha, muda? (*Red)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close