BERITA TERKININASIONALOPINIPENDIDIKANSOSOK

Menulis dengan Ikhlas

Oleh: Octy Avriani Negara

PetaBanten.com – Jangan menulis tentang nikmatnya cita rasa kopi, jika kau bahkan tak suka meminumnya. Jangan menulis tentang bahagianya diguyur hujan, jika kau bahkan benci dibasahi olehnya. Bahkan kau tak perlu menulis tentang politik dan kebijakan pemerintah, jika kau lebih suka nonton Uttaran daripada nonton berita dan membaca koran.

Dari yang saya perhatikan, beberapa orang yang menulis di blog memiliki mindset bahwa, “I have to give a good reading in front of public.” Sehingga yang berusaha mereka tuliskan adalah hal-hal bagus yang diinginkan khalayak. Bukan berasal dari keinginan pribadi untuk menanggapi sesuatu yang menggelitik diri. Malah jatoh-jatohnya, tulisan yang mereka buat bukan menghasilkan tulisan yang bagus, tapi tulisan yang dibagus-baguskan.

Seasli-aslinya orang menulis adalah orang yang menuangkan segala pemikiran yang ada di kepalanya ke dalam media tulisan. Itu berarti, menulis betul-betul berasal dari sepengetahuan kepala kita saja. Seperti kita tidak dapat mengupas dengan baik kulit buah kelapa jika kita tak betul paham cara melakukannya. Sama ketika kita tidak dapat mengupas tuntas suatu pembahasan jika kita tak betul paham menguraikannya. Lalu kenapa masih ada pikiran untuk menuliskan sesuatu di luar permasalahan pengetahuan kita?

Tulisan seseorang bisa ditentukan dari berapa umur yang ia punya, problem apa yang ia hadapi, dan sesuatu apa yang ingin ia capai. Semua menggambarkan proses kedewasaan sang penulis. Ketika saya masih di umur anak sekolah, saya tidak pernah menuliskan permasalahan tentang pusingnya ngejar-ngejar dosen. Pun saat ini saya belum pernah menuliskan kegelisahan tentang pusingnya mengambil hati calon mertua. Kenapa? Karena masalah itu tidak sesuai dengan sepengetahuan saya, tidak sesuai dengan problem apa yang saya hadapi, dan tidak sesuai dengan sesuatu apa yang ingin saya capai.

Kalau dari pandangan saya; proses menulis adalah proses mengamati suatu masalah, observasi suatu kondisi, dan atau memainkan sebuah imajinasi. Kemudian pemikiran-pemikiran itu ditarik  keluar dari kepala, dikumpulkan di satu wadah yang sama, diberi kaca pembesar, dan akhirnya dituliskan berdasarkan perspective kita sendiri. Lalu ketika tulisan itu disampaikan ke khalayak, kadang-kadang di antara pembaca, baru akan mengetahui bahwa ternyata banyak hal yang mereka lewati, selama ini ia acuh untuk mengerti, dan akhirnya mereka sadar untuk melihat masalah lebih dalam lagi. Hingga ia akan mendapatkan momen, “Anjir, iya juga yah”, “ohh, begitu toh ternyata”, “nah, bener kan yang aku rasain.”

Kalau kata tante saya, J.K Rowling sang Novelis ternama dari Inggris, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Karena begini teman-teman; ketika kita menulis tentang sesuatu yang tidak betul-betul berasal dari hati. Maka orang-orang yang akan membacanya, juga takkan merasakan hati dari tulisan itu. Sebab menulis dengan ikhlas itu sangat perlu. Saya lebih suka menyebut proses ini dengan, “Menulis adalah berbagi rasa lewat abjad dan menyentuh hati lewat kata.”

Ibarat dunia musik. Ketika kita menyanyikan sebuah lagu dengan datar-datar saja, tanpa penghayatan dan tanpa perasaan. Yasudah, orang-orang yang mendengarnya juga tidak dapat tersentuh hatinya. Yah bagaimana orang mau menghayati dengan perasaan, kita yang menyanyikannya juga tidak pake perasaan.

Maka menulis dengan hati yang ikhlas itu sangat penting. Kenapa? Karena jika semua anggota tubuh kita berbohong, hanya satu yang akan tetap jujur. Iya, benar; HATI. Bukankah hati sebaiknya disuarakan untuk kita mengerti apa yang kita gelisahkan? Haha, kalau kau sudah berhubungan dengan hati, kau takkan bisa memaksanya menuliskan sesuatu di luar dari keresahannya.

Lagian, dampak paling besar dari proses kita menulis akan berimbas kepada siapa? Bukan orang lain, tapi kita sendiri.

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” Kata Seno Gumira Ajidarma sang Creator dari Sepotong Senja untuk Pacarku.

Dengan menulis, kita jadi punya mesin waktu pribadi dan punya buku comedy sendiri. Tidak percaya? Contoh: saat ini saya sudah kuliah, ketika saya ingin bernostalgia masa-masa SMA, saya tinggal membaca tulisan saya beberapa tahun lalu. Kemudian saya akan melihat waktu itu seperti terulang kembali. Melihat dulu betapa bangkenya ditikung teman, betapa kentutnya kena siping rambut yang membuyarkan usaha PDKT dengan gebetan. Kau takkan percaya betapa tertawanya saya ketika membaca itu kembali. Padahal waktu itu rasanya sedih sekali ketika saya menuliskannya. Tapi saat ini, kok menggelikan perut ginjal paru-paru yah.

Kalau kata om saya, Om Sapardi, “Yang fana itu waktu. Kita abadi.” Nah, kalau kata saya, “Yang fana itu manusia. Tulisannya abadi.”

Saya pernah mengetweet ini, “Cara menghidupkan masa muda di hari tua nanti, yaitu membaca tulisan kita saat ini. Maka jika kau tak menulis. Masa mudamu akan mati.” Nah kebetulan satu pemikiraan dengan Bang Alit Susanto sang Penulis dari Shitlicious, “ Kenapa aku menulis buku? Agar kelak saat tak lagi bernyawa ragaku, semua ceritaku bisa dibaca oleh anak cucu.”

Ada pertanyaan. Bagaimana kalau kita baru ingin memulai menulis? Bagaimana menuliskannya? Sepertinya juga sudah terlambat?

Jangan khawatir masalah umur, bukankah orang belajar juga tak mengenal usia? Menulis pun begitu. Oh iya, memang banyak orang yang bertanya tentang bagaimana menuangkan ide-ide yang ada di kepala ke dalam sebuah tulisan. Jawabannya sederhana; mulai menulis saja. Tak peduli seberapa kacau susunan bahasamu, seberapa rancu pemilihan diksimu, yang terpenting mulai lah dulu. Bukan kah untuk telaten, orang harus mulai latihan.

Ada lagi pertanyaan. Apakah Manfaat menulis hanya untuk di masa depan? Orang yang baru memulai berarti belum bisa mendapatkan manfaatnya saat ini, karena belum ada tulisan di masa lalu?

Justru saat ini manfaatnya sedang melimpah-limpahnya. Salah satunya; kita akan memahami bahwa untuk mengabadikan isi kepala, maka menulislah. Nah, ketika kita memiliki sebuah keresahan misalnya. Kemudian keresahan itu dituliskan. Sebenarnya kita sudah mengeluarkan satu wujud lain dari diri kita. Sehingga kita bagaikan telah berhadapan langsung dengan refleksi kita sendiri. Maka inilah kesempatan kita tuk membedahnya. Lihatlah dengan teliti, bagian mana dari wujud itu yang meresahkanmu, apa yang perlu kau ubah, kau ganti, kau tambahi, atau kau kurangi. Daannnn bwoooommmmm!!! Kau berhasil mengoperasi satu wujud dari refleksi dirimu sendiri untuk menjadi lebih baik. Sebab sejatinya, menulis adalah cerminan diri sekaligus proses membaca diri.

Ada lagi manfaat menulis untuk saat ini? Masih banyak teman-teman, di antaranya; menulis adalah obat instan untuk patah hati. Baik itu menulis dengan pulpen di lembaran kertas. Atau menulis dengan paku di muka mantan.

Nah kan? Dampaknya sangat bermanfaat untuk saat ini dan tentunya untuk masa yang akan datang juga. Langsung saja deh kesimpulan.

Maka buat apa kita menghabiskan waktu untuk memikirkan tulisan apa yang ingin orang lain lihat? Toh dampak positifnya lebih pada diri kita sendiri juga. Sebab sekali lagi, menulis adalah wadah yang sangat baik untuk kita bisa intropeksi, mendewasakan diri, dan berkenalan lebih jauh lagi dengan diri sendiri. Untuk kita lebih peka dengan keadaan sekitar, terlebih dengan perasaan orang lain, dan tentunya dengan perasaan kita sendiri.

Kata kakek saya Mbah Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Jadi jika menulis adalah cara mudah mengabadikan diri, dan cara asyik untuk membuat jejak rekam pribadi. Kenapa kita tidak memulai? Kalau bukan kita sendiri siapa lagi? Kalau bukan saat ini kapan lagi?

Sekian.

Salam hangatku untuk teman-teman yang masih ragu untuk mulai menulis.

😊
Nb: Mohon do’a dari teman-teman semua untuk kesembuhan saya, agar tetap bisa menulis dan menulis.

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close