BERITA TERKININASIONALPUISI

PUISI UNTUK SEMUA ORANG INDONESIA

Oleh: Octy Avriani Negara
KOHATI PB HMI

PetaBanten.com – jangan mau dirampas hak-hak kita sebagai warga negara dan bangsa Indonesia, yang bebas beragama dan berkeyakinan, yang hidup damai dan rukun tak seperti negara-negara lain yang tak bebas menjalankan tradisi sendiri, yang anak-anak kita hidup dalam kedamaian..:

INI INDONESIA
Ini Indonesia, Tuan.
Kita Muslim, kita Kristen, kita Buddhis, kita Hindu, kita Konghuchu,
kita memuja Tuhan bersama para leluhur pada batu-batu, pada pohon-pohon, pada laut,
pada sungai, pada danau, pada gunung-ganang, pada bukit-bukau, pada padang rumput,
pada dinding gubuk kita, pada lubuk hati terdalam.
Riuh rendah, hiruk pikuk ketidakadilan
bukan sebab masjid, gereja, wihara, kuil, pura, surau, kapel, candi, patung-patung,
rumah-rumah menyenandungkan puji-pujian
yang salah, yang keliru, yang sesat, yang kufur.
Kita Indonesia. Kebinekaan kita. Kita kesatuan.
Sedu sedan, ratapan, jeritan, teriakan, gugatan,
saling melempar senyum, saling mengulurkan tangan.
Kita menyingsingkan lengan, menyalakan keadilan.
Ini Indonesia, Nyonya.
Anak-anak kita bermain di ladang-ladang, hutan-hutan, taman-taman,
kebun-kebun, lembah-lembah, padang-padang luas terbentang.
Tak peduli mata sipit, mata bulat, hidung mancung, hidung pesek, kulit gelap, kulit terang.
Kusebut nama Tuhan, Langit. Kau sebut nama Tuhan, Laut.
Anak-anak kita meloncat-loncat, menari-nari,
berenang meluncur dari air terjun ke arus deras nan tenang,
bebas merdeka tanpa suara senapan,
tembakan, ledakan, tanpa suara ketakutan.
Oh!
Ceramah-ceramah itu akan membunuh kita.
Ini butir-butir peluru ke dalam bedil, golok beracun sedang diasah:
Sukubangsa mereka, iman orang lain lebih buruk daripada iman kita?
Ini Indonesia, Surga dunia.
Di sini kampung halaman semua anak bisa bermain
tanpa jari telunjuk mengungkit-ungkit kartu anggota kesucian,
klub-klub kebenaran yang membelah-belah Tuhan yang kita bilang Esa.
Ini Indonesia, Nona.
Kita berkerudung, kita berhijab, kita bersanggul, kita berkepang,
kita pakai rok, kita bercelana, kita berkebaya, kita berbaju kurung,
kita bergaun, kita bercadar, kita berkemben,
rambutku tergerai ikal mayang, rambutmu tercukur habis, selendang kita berwarna-warni.
Nenekmu Keumalahayati menghunus pedang di samudra.
Nenekku Matah Hati membidik panah di hutan belantara.
Nenek-nenek kita menghujamkan pena
di balik tembok-tembok istana, di keheningan pondok-pondok senyap.
Kita cantik, bekerja di rumah-rumah, duduk di puncak gedung-gedung, berendam di kolam susu, memijat kepala dan membersihkan kuku di salon-salon terlengkap di dunia.
Wajah Kabul, Damaskus, Karachi, Teheran, Baghdad, Istanbul,
kota-kota berdebu gurun terkaya, berpaling ke wajah kita, menatap kau dan aku.
Batang hidung Paris, Milan, London, New York, Beijing, Seoul
kota-kota bermenara tertinggi , berbalik ke ujung hidung kita, memandangi kau dan aku.
Ini Indonesia,
Surga para bidadari! Pakaian kita, keyakinan kita, kemerdekaan kita.
Ini Indonesia, Bung!
Medan perang kompeni, meneer-meneer Belanda, tentara Dai Nippon,
Kereta api berkasta Pribumi, Cina, Arab.
Nyai, kapitan, ambtenaar, tanam paksa, romusha, kerja rodi.
Sup dendam basi tak dapat dihidangkan lagi di
meja makan siang dan perjamuan makan malam kita.
Itu jendela, itu jendela.
Ini pintu, ini pintu.
Ayo berangkat ke ujung semesta!
Membuka warung Tegal, rumah makan Padang, kafe kopi luwak.
Mengekspor batik , tenun, sarung. Membangun rumah panggung, joglo, tongkonan.
Mengembangkan layar phinisi, sandeq, perahu-perahu bercadik
di planet-planet Kepler dan segalaksinya!
Bukit menanti, laut menunggu, langit memanggil!
Darah kita merah. Tulang kita putih.
Kita, Indonesia.
Ini Indonesia, Sayangku!
Agama, suku, murni-tak murni, asli-tak asli,
kemana nurani sembunyi, kemana kalbu menyendiri?
Duh, aku lelah membenci
Ayo bercinta, Sayangku!
Tuhan yang melindungi iman, yang meniup hembusan nafas kita.
Bukan kau dan aku. (S.I)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close