BERITA TERKININASIONALPERISTIWA

Silelaki Pejuang Subuh ‘Novel Baswedan’

Oleh: Octy Avriani Negara

Wasekum PSDO KOHATI PB HMI

PetaBanten.com – Pagi ini galery foto WA saya dipenuhi dengan gambar Pak Novel Baswedan. Hampir semua grup WA yang saya ikuti, mengirimkan gambar itu. Dan tiap kali melihatnya dada ini rasanya sesak, pilu, ada kesedihan yang mendalam, seolah ikut merasakan kepedihan itu.

Secara pribadi saya tidak kenal dengan Pak Novel Baswedan. Sosoknya dan segala sepak terjangnya sejak menjadi polisi yang ditugaskan sebagai penyidik di KPK, hingga dia meninggalkan institusi Polri dan memilih menjadi penyidik KPK, semua hanya saya baca dari media massa atau cerita orang yang pernah berurusan dengannya.

Ya, Novel Baswedan adalah penyidik tangguh dan kawakan andalan KPK. Dia selalu dipercaya menyidik kasus korupsi besar yang melibatkan tokoh politik dan atau parpol besar.

Tahun 2011, Novel Baswedan menangani kasus suap Wisma Atlit yang melibatkan Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat kala itu. Kasus yang cukup rumit awalnya, karena Nazar sempat kabur dan buron.

Lalu tahun 2012 Novel dipercaya menangani penangkapan Bupati Buol Amran Batalipu, yang terlibat kasus suap milyaran rupiah yang melibatkan perusahaan milik Siti Hartati Murdaya. Penangkapan Amran cukup sulit dan tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu satu kali, karena banyaknya pengawal Amran. Bahkan Novel nyaris ditabrak para pengawal Amran ketika melakukan pengejaran, saat itu masih beruntung karena hanya motornya saja yang ringsek, orangnya selamat dan pada penangkapan berikutnya Novel akhirnya berhasil membawa Amran Batalipu ke Jakarta.

Yang fenomenal lagi terjadi, masih di tahun 2012, ketika Novel memimpin penyidikan kasus dugaan korupsi alat simulator SIM, dimana para penyidik KPK harus melakukan penggeledahan di kantor Korlantas Polri. Terduganya adalah Irjen Pol. Djoko Susilo, mantan Kakorlantas, sementara Novel masih seorang polisi berpangkat Kompol.
Menarik kasus ini karena KPK harus head to head dengan Polri, saat berusaha mengambil barang bukti, pada malam hari saat bulan Ramadhan tahun 2012.

Bahkan, menjelang penetapan Irjen Pol Djoko Susilo menjadi tersangka, Oktober 2012, KPK “dikepung” sejumlah aparat polisi. Malam itu menjadi malam yang menegangkan, hingga banyak aktivis anti korupsi berdatangan ke gedung KPK pada tengah malam hingga dini hari. Novel Baswedan lah yang dibidik hendak diciduk dengan dalih kasus lama. Inikah awal mula kasus “CICAK VS BUAYA” jilid 2.

Belakangan, publik tahu bahwa jendral bintang 2 di Polri yang termasuk daftar jendral pemilik rekening gendut, ternyata jumlah asset dan harta kekayaannya luar biasa besar, sangat tidak masuk akal dibandingkan dengan profilnya sebagai pejabat Polri. Akhirnya sang jendral pun masuk bui karena kasus korupsi dan pencucian uang.
Dalam menangani kasus ini, Novel harus berhadapan dengan institusinya sendiri : POLRI !
Dimusuhi para petinggi Polri yang kala itu tentu lebih berpihak pada Irjen Djoko Susilo.
Siapalah Novel, perwira menengah yang berani menyidik hingga jadi tersangka seorang perwira tinggi.

Yang terbaru adalah kasus mega korupsi e-KTP, ini juga ditangani Novel Baswedan. Kasus ini melibatkan banyak nama politisi DPR, beberapa diantaranya sudah tidak di DPR namun bahkan sudah jadi Gubernur.

Tahun lalu, Novel dikonfrontir di persidangan dengan saksi Miryam S. Haryani, politisi Hanura, anggota DPR yang juga Penanggung Jawab GADIS AHOK, organisasi para wanita muda pendukung ahok.
Dalam persidangan Miryam menangis, bercucuran air mata, mengaku ditekan oleh 3 penyidik, salah satunya Novel Baswedan. Bahkan Miryam pun akhirnya mencabut BAP dengan dalih saat di-BAP dirinya dalam tekanan.

Akhirnya, pengakuan Miryam pun dikonfrontir dengan kesaksian Novel Baswedan, yang menunjukkan rekaman CCTV ruang penyidikan ketika proses penyidikan terhadap Miryam sedang berlangsung.
Ujung-ujungnya, jaksa KPK justru menetapkan Miryam S. Haryani sebagai TERSANGKA kasus pemberian kesaksian palsu. Kabarnya, akibat status tersangka ini Miryam dipecat dari partainya.

Kembali ke musibah yang menimpa Novel.
Bukan baru kali ini dia mengalami teror. Dulu pun dia nyaris ditabrak mobil, hanya saja Allah masih menyelamatkannya.

Tapi kali ini, Novel rupanya benar-benar sedang diuji. Lelaki botak yang kini memelihara janggut itu seusai sholat Subuh berjamaah, diikuti 2 pria naik motor yang kemudian menyiramkan air keras ke wajah Novel.
Sempat berusaha lari untuk mencari air hendak membasuh mukanya, Novel kemudian terjatuh menabrak pohon. Saya bisa bayangkan, muka disiram air keras tentunya langsung melepuh dan panas bak terbakar, apalagi kena daerah sekitar mata. Ya Allah begitu berat cobaan yang harus ditanggung Novel Baswedan.

Siapa pelakunya? Bisa jadi hanya penjahat bayaran yang bekerja secara profesional atas suruhan seseorang yang punya dendam atau merasa Novel bakal membahayakannya.
Penabrak Novel saja sampai sekarang tak diketahui siapa pelakunya.

Siapapun itu, orang kuat yang menyuruh mencelakakan Novel, pastilah karena sudah KEHABISAN CARA MELUMPUHKAN NOVEL.
Kalau saja Novel masih mempan disuap, maka koruptor akan lebih memilih menyuap.
Logikanya simpel saja : menyuap itu perkara mudah, tinggal negosiasi, disepakati berapa jumlahnya, kapan dan dimana akan diberikan, dengan cara apa dibayarkan suapnya. Sekali menyuap, seorang koruptor bisa “pegang kartu truf” selamanya. Seorang aparat penegak hukum yang sudah menerima suap, tak akan punya taji lagi, karena kebusukannya sudah jadi rahasia di tangan penyuap.

Dibandingkan harus menyewa penjahat atau pembunuh bayaran, mahal ongkosnya, belum lagi si penjahat anytime bisa nagih “japrem” diluar bayaran yang sudah disepakati. Resikonya pun besar. Kalau sampai terbongkar, nama si pemberi order bisa terseret.

Nah, dari perjalanan waktu, 2011 hingga kini 2018, insyaa Allah saya masih percaya integritas Novel Baswedan sebagai penyidik KPK.
Meski secara pribadi saya tidak lagi bisa percaya pada 5 Komisioner KPK.

Namun melihat upaya jahat menyingkirkan Novel dengan cara hendak membuatnya celaka bahkan cacat, saya jadi percaya bahwa dia dianggap berbahaya oleh koruptor dan sulit DIJINAKKAN dengan cara “mainstream”, yaitu “DIBELI”.
Kalau masih bisa disuap, kenapa harus repot-repot sewa penjahat bayaran untuk menyingkirkannya?
Semoga Pak Novel Baswedan benar-benar istiqomah.

Kita sudah nyaris kehabisan stok orang jujur di negeri ini. Terutama aparatur penegak hukum. Uang sudah jadi panglima paling berkuasa. Semua bisa dibeli dengan uang, tinggal “wani piro” sajalah.

Semoga Pak Novel satu diantara sedikit stok orang jujur dan berintegritas.
Syafahullah Pak Novel.
Semua terjadi atas ijin Allah. Bersabarlah, tawakkallah, insyaallah Sang Maha Kuasa punya skenario lain atas kejadian ini.
Anda celaka dalam perjalanan pulang dari masjid, sholat Subuh, bukan pulang dari ngedugem. Ini salah satu alasan saya percaya anda orang baik. Pejuang Subuh berjamaah.
Apalagi yang saya baca, anda juga orang yang sangat berbakti pada Ibunda.

SUBHANALLAH, ALLAH tak pernah salah memilih siapa yang akan DIA beri ujian dan seberat apa ujiannya.
Kenapa Allah pilih Pak Novel Baswedan dan bukan penyidik atau bahkan komisioner KPK lainnya, karena Allah tahu anda kuat dan keluarga anda pun insyahAllah kuat.

Selamat berjuang Pak Novel Baswedan, doa kami menyertaimu. (*)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close