BERITA TERKININASIONAL

Emansipasi, Kebebasan atau Kebablasan

Oleh: Octy Avriani Negara

Wasekum PSDO KOHATI PB HMI

Emansipasi

PetaBanten.com – tanggal 21 April yang diperingati sebagai hari kartini, tentu sering kita dengar istilah emansipasi. Saat ini emansipasi merupakan hal yang sering diperjuangkan terutama oleh kaum wanita, emansipasi yang mereka usung mencakup berbagai aspek, termasuk masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hingga saat ini, masalah emansipasi masih sering menjadi perdebatan. Ada pihak yang merasa bahwasanya hak-hak wanita saat ini masih belum terpenuhi seutuhnya, namun ada pula yang berpikir tuntutan-tuntutan emansipasi tersebut sebenarnya sudah diluar kewajaran dan tidak bisa dikatakan sebagai emansipasi yang harus diperjuangkan lagi.

apa sebenarnya definisi emansipasi tersebut, menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dari berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria), sedangkan emansipasi wanita adalah  proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Istilah emansipasi ini sering dikaitkan dengan sosok kartini sebagai pejuang emansipasi,kartini adalah seorang raden ayu jepara yang merupakan istri seorang bupati rembang. yang diperjuangkan oleh seorang kartini sehingga mendapat gelar pahlawan adalah hak wanita untuk berpendidikan, karena pada zaman kartini, wanita pribumi tidak mendapatkan hak nya untuk berpendidikan , padahal menurut kartini pendidikan bagi seorang wanita sangat penting. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

pergeseran nilai emansipasi

sayangnya, emansipasi kini mengalami pergeseran nilai, apa yang diungkapkan kartini “bukan untuk menyaingi laki-laki” seolah menampar keras nilai emansipasi Karena yang terjadi saat ini adalah lebih kepada emanispasi yang diperjuangkan oleh wanita-wanita barat. sehingga terjadi persaingan perempuan dan laki-laki dalam segala aspek. para wanita berlomba mendapatkan pendidikan tinggi bukan untuk mencipatkan generasi bangsa terbaik yang akan lahir dari Rahim mereka, namun untuk memeperoleh karir gemilang dan menunjukkan kemandirian dengan tanpa menikah. kemudian berlanjut kepada penuntutan perkawinan sesama gender.

perjuangan yang tidak sia-sia

ternyata perjuangan kartini tidak sia-sia, hal ini terlihat dari angka partisipasi murni (partisipasi pendidikan pada usia seharusnya) perempuan untuk sma pada tahun 2012 naik sekitar 7% dibandingkan pada tahun 2004 yang APMnya mencapai 43%, untuk partisipasi perguruan tinggi mencapai 12% pada tahun 2012 yang naik sekitar 2.5% dibandingkan pada tahun 2004. selain di bidang pendidikan, partisipasi wanita di bidang karir pun menunjukkan peningkatan,terjadi peningkatan keterlibatan perempuan dalam kerja upahan di sektor non-pertanian dari 29.24 persen pada tahun 1990 menjadi 35.10 persen di tahun 2013 . kemajuan di bidang wanita bukan hanya diperlihatkan oleh masyarakat namun juga di sisi pemerintahan yang mulai memikirkan perlindungan perempuan dan partisipasi perempuan di bidang politik, hal ini di wujudkan lewat kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara dan juga kuota legislatif untuk perempuan sebanyak 30%.

peran perempuan

kembali ke jatidiri seorang perempuan dimana ia ditakdirkan dengan peran utama dan tugas mulia sebagai seorang ibu, banyak yang meragukan pentingnya perofesi yang tak bergaji ini. sehingga hal ini yang mengakibatkan para wanita mencari kesibukan di luar. Padahal peran seorang wanita dalam kemajuan Negara saangat penting karena mereka adalah pendidik setiap kader bangsa yang mereka lahirkan dengan tiga fungsi utama yaitu asih asuh dan asah dan tak lupa dilanjutkan dengan fungsi pengawasan. Yang tentu saja semua ini tidak dapat dilaksanakan atau tidak maksimal hasilnya ketika wanita tersebut memilih untuk ‘beremansipasi’. Jika saja setiap wanita di Indonesia mau serius dalam menjalani peran mereka sebagai ibu, tentu anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi manusia berkualitas dari segi otak maupun akhlaq, selain bangsa yang akan diuntungkan dengan adanya manusia berkualitas tersebut, tentu wanita tersebut akan mendapatkan kemuliaan luar biasa yang sudah diketahui oleh semua umat manusia yang beragama.

kembalikan emansipasi

semoga dengan adanya peringatan hari kartini ini kita kembali kepada nilai emansipasi yang dibawa kartini. dimana perempuan harus menerima pendidikan terbaik, bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi untuk posisi yang lebih penting, menjadi partner mereka dalam pengambilan setiap keputusan penting, serta menjadi pendidik yang berkualitas bagi anak-anak mereka agar tercipta kader bangsa yang mencintai dan mengabdi pada negeri.

semoga perempuan Indonesia kembali kepada kodratnya, sebagai tonggak kemajuan bangsa dengan tanpa meninggalkan jati dirnya sebagai seorang perempuan.

salam perempuan Indonesia!

 

#(S.I)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close