BERITA TERKINIINDUSTRINASIONALOPINIORGANISASIPERISTIWA

Lalu, Setelah Hari Buruh Apa (?)

Oeh: Octy Avriani Negara

KOHATI PB HMI

PetaBanten.com – Hari ini katanya Hari Buruh Sedunia. Sepanjang hari jalanan hiruk pikuk oleh teriakan memukul angin. Spanduk dan poster dibentangkan menutup jalan. Bendera dikibarkan menantang langit. Lalu kita “dipaksa” mengingat Marsinah, buruh pabrik arloji di Sidoarjo yang dibunuh setelah mengorganisir mogok dan memperjuangkan kenaikan upah.

8 Mei, 24 tahun yang lalu, Marsinah ditemukan tanpa nyawa di gubuk pinggir sawah di Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur setelah tiga hari diculik. Sampai saat ini kita tidak pernah tahu siapa yang membunuh buruh pemberani itu. Kasusnya dibiarkan gelap. Pemilik perusahaan tempat Marsinah bekerja yang menjadi terdakwa kasus ini malah divonis bebas.

Sejak Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris pada bulan Juli 1889 menetapkan peristiwa tewasnya ratusan buruh di AS pada 1 Mei 1886 saat demo menuntut pengurangan jam kerja sebagai Hari Buruh Sedunia atau May Day, entah sudah keberapa ratus kali Hari Buruh diperingati para buruh di sini.

Apa yang kita lihat, dan ingat, tak pernah berubah. Marsinah masih dibiarkan tanpa kejelasan siapa yang menghabisi nyawanya dengan sadis. Marsinah tetap hanya menjadi monumen perlawanan terhadap kesewenangan perusahaan yang dibekingi aparat. Di kuburannya Marsinah tetap menangis getir karena perjuangannya sama sekali belum selesai. Lalu untuk apa sebenarnya ucapan selamat di Hari Buruh?

Belum jauh dari tahun kematian Marsinah, Wiji Thukul, penyair yang menjadi buruh di Solo, pernah lantang menyuarakan:

Sehari saja kawan,
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti akan kelabakan!!!

Hari ini teman-teman Wiji Thukul yang bernyanyi dalam satu barisan mungkin tak pernah lupa kata-kata itu. Tapi mereka lupa kapan terakhir kali upahnya naik, kapan terakhir kali  hutang bisa terbayar, dan kapan terakhir kali perabotan di dalam rumah diganti. Wajah suram mereka terekam oleh garis-garis barcode, sedangkan kapitalis tak pernah kelabakan. Para kapitalis tetap berupaya menekan modal dan mereguk untung sebanyak-banyaknya dengan cara memeras peluh buruh. Lalu apa sebenarnya yang dirayakan di Hari Buruh?

Memang benar hari ini para buruh bisa pergi berwisata barang sejenak karena Hari Buruh diputuskan jadi hari libur nasional. Begitu juga koran-koran tidak terbit dan PNS tidak masuk kantor. Tapi mesin-mesin pabrik tak pernah libur memeras keringat buruh sementara upah yang diberikan tak cukup untuk membayar kontrakan dan makan tiga kali sehari. Di beberapa daerah, tahun ini di mana Hari Buruh jadi hari libur masih ada upah buruh di bawah satu juta. Lalu setelah Hari Buruh, apa?

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close