BERITA TERKININASIONALOPINIPERISTIWA

Islam Vs Terorisme

Oleh: Octy Avriani Negara, KOHATI PB HMI

Diakui atau tidak, sejak peristiwa penabrakan gedung World Trade Center (WTC) oleh para teroris pada 9 September 2001, citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tercoreng. Pasalnya, Al-Qaeda sebagai pihak yang mengaku bertanggung jawab atas aksi tersebut, mengklaim bahwa motif tindakannya adalah demi memperjuangkan Islam. Hal ini diakui langsung oleh Osamah bin Laden selaku pimpinan tertinggi Al-Qaeda waktu itu.

Efek samping dari aksi teror ini membuat masyarakat barat yang kebanyakan non muslim melabelkan Islam sebagai agama teror atau agama kekerasan. Pelabelan ini menjadi sesuatu yang wajar, melihat kondisi masyarakat barat yang melihat Islam hanya dari berita di media massa yang kebanyakan hanya memberitakan berbagai tindak terorisme atas nama Islam semata, tanpa mau melihat ajaran Islam secara keseluruhan. Padahal agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini tidak pernah membenarkan tindak terorisme dalam kondisi apapun.

Islam justru adalah agama yang cinta kasih. Sejak awal kemunculannya, Islam hadir untuk mengasihi seluruh manusia bukan malah menebarkan teror atau kekerasan.

Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat alam semesta. Artinya rahmat Islam tidak hanya untuk orang Islam saja, tapi juga untuk orang di luar Islam. Bentuk nyata dari komitmen Islam sebagai rahmatin lil alamin terlihat dari ajaran Islam yang menjamin lima hak dasar manusia tanpa memandang agama, ras, ataupun suku. Lima hak dasar tersebut berupa, (1) jaminan keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum (Hifdzu an-nafs); (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-din); (3) keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl); (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau penggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal); (5) keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-aqli), (Abdurrahman Wahid, 2007:4-5).

Lima jaminan dasar di atas jelas menunjukan bagaimana Islam adalah agama yang hadir tidak hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia apapun latar belakangnya. Lima jaminan dasar tersebut berlaku tidak hanya untuk umat Islam saja, tapi juga berlaku untuk orang di luar Islam. Implementasinya dapat dilihat sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah. Dalam masyarakat Madinah, Rasulullah membuat Piagam Madinah bersama berbagai orang dari berbagai suku dan agama yang ada di Madinah. Piagam tersebut intinya berisi jaminan kepada semua orang yang ada di Madinah untuk mendapat keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari (Zuhairi Misrawi, 2009:7).

Tindakan terorisme yang mengatasnamakan Islam tidak dapat dibenarkan bila ditinjau dari lima jaminan dasar tersebut. Setidaknya ada satu jaminan dasar yang dilanggar oleh tindakan terorisme, yaitu hifdzu an-nafs. Dalam hifdzu an-nafs diberikan jaminan keselamatan fisik kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang apapun. Sedangkan terorisme justru mengancam atau malah merenggut keselamatan warga masyarakat itu sendiri. Dalam berbagai tindak terorisme terlihat bagaimana tindakan itu mengakibatkan banyak nyawa melayang dan menyebabkan luka-luka pada korbannya. Artinya keselamatan fisik yang telah dijamin Islam justru dilanggar oleh tindakan terorisme.

Dalam Islam sangat banyak perintah untuk menjaga serta melindungi jiwa manusia. Salah satu perwujudannya bisa dilihat ketika puasa Ramadhan. Ketika seseorang berpuasa dan ternyata puasanya itu justru membuat keselamatan jiwanya terancam, Islam memberi pengecualian untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain waktu atau membayar fidyah. Pengecualian ini jelas bukti bagaimana Islam berkomitmen untuk menjaga keselamatan seorang individu. Dari sini terlihat bahwa terorisme yang merenggut banyak nyawa jelas bertentangan dengan komitmen Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Seiring berjalannya waktu, bentuk tindak terorisme makin bertransformasi sedemikian rupa. Bila di awal 2000-an, tindak terorisme biasanya menargetkan simbol-simbol negara barat, belakangan ini target itu mulai bergeser. Kini tidak hanya simbol negara barat yang diserang, tapi umat Islam itu sendiri juga jadi sasaran aksi teror. Apa yang terjadi di Mesir November lalu menjadi contoh nyata dari hal ini. November lalu, tepatnya pada hari Jumat 24 November 2017, di kota El-Arish, Provinsi Sinai Utara, Mesir, terjadi penyerangan secara brutal terhadap para jamaah Masjid Al-Rawdah di Bir al-Abid yang sedang melaksanakan Shalat Jumat. Dalam serangan ini, ratusan orang meninggal dan melukai puluhan orang lainnya. Sebagian besar korban adalah para jamaah yang baru saja menunaikan Shalat Jumat.

Penyerangan terhadap masjid adalah tindakan yang sulit dicerna akal sehat. Bagaimana mungkin tempat ibadah agamanya sendiri justru diserang secara membabi buta. Penyerangan ini mengindikasikan bahwa para teroris tidak menganggap masjid sebagai tempat suci umat Islam. Hal ini jelas sesuatu yang mengkhawatirkan karena tindak terorisme bisa terjadi justru di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman umat Islam.

Dari sini kemudian kita bisa menilai sendiri apakah perjuangan membela Islam seperti yang digembar-gemborkan para teroris itu benar atau tidak. Bila memang berjuang untuk Islam, Islam yang seperti apa yang diperjuangkan hingga berani menyerang masjid dan membunuh orang Islam yang justru sedang beribadah.

Indonesia adalah negara yang sejak belasan tahun lalu sudah menjadi target para teroris. Aksi terorisme dari Bom Bali hingga yang terakhir pada Bom Surabaya hari ini, menjadi bukti kalau negara ini memang menjadi salah satu target para teroris. Untuk itu, kita harus waspada dan terus mengkampanyekan perlawanan terhadap tindakan terorisme. Jangan sampai kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang telah rukun ini dirusak oleh aksi teror yang tidak berprikemanusiaan. Karena selain bertentangan dengan nilai-nilai luhur kebangsaan kita, terorisme juga bertentangan dengan seluruh ajaran agama yang ada.

Pemerintah dan aparat keamanan perlu melakukan tindakan preventif semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa aksi teror tidak akan terjadi lagi di Indonesia. Jangan ketika bom sudah meledak, pemerintah baru bergerak. Sejak dari jauh hari pemerintah harus sudah melakukan upaya pencegahan di segala lini agar aksi teror yang tidak terjadi lagi.

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close