BERITA TERKININASIONALOPINIORGANISASIPENDIDIKAN

Penjajahan Perempuan Hari Ini: Masihkah Isu Kesetaraan Gender (?)

Oleh: Octy Avriani Negara, KOHATI PB HMI

Gerakan Feminisme ada karena terjadinya penjajahan terhadap kehidupan perempuan. Sehingga banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan dan tidak mampu mengembangkan potensi dirinya. Pada saat ini, isu kesetaraan gender masih terus digaungkan karena di sejumlah negara masih belum menjamin kesetaraan hak laki-laki dan perempuan. “Di banyak negara, sistem hukum nasional belum menjamin kesetaraan kedudukan perempuan dan laki-laki. Perempuan harus sering lebih lama dari laki-laki dalam sehari dan banyak karya mereka yang belum dihargai, diakui dan memperoleh apresiasi yang sangat rendah. Selain itu, masih banyak perempuan yang mengalami ancaman kekerasan dari sejak lahir sampai akhir hayat (Hermawati, et.al., 2006: 77).

Namun, isu kesetaraan gender pada hari ini sepertinya perlu ditinjau ulang dan dilihat lebih luas. Apakah isu kesetaraan gender menjadi satu-satunya topik yang perlu disadarkan oleh berbagai pihak sebagai bentuk penjajahan terhadap perempuan hari ini?. Karena di sisi lain, telah banyak negara yang memberikan kewenangan pada perempuan untuk dapat mengembangkan potensinya dan mengukir karya. Melalui hal ini, perempuan perlu mengevaluasi eksistensinya. Karena sebenarnya yang menjajah perempuan bukanlah kekangan laki-laki atau kebijakan yang berlaku, melainkan perempuan telah diserang oleh gaya hidup dengan segala produknya.

Gencarnya berbagai produk dan gaya hidup masyarakat khas kota yang menyerang perempuan dapat terjadi karena bergesernya paradigma masyarakat mengenai sosok perempuan. Dewi Candaningrum, seorang redaktur dari Jurnal Perempuan pernah mengutarakan bahwa, “pada abad modern, pandangan masyarakat atas tubuh dan seksualitas telah bergeser. Perempuan dijajah di mal dan supermarket. Kecantikan mereka didikte oleh produk kosmetik dan fashion, bukan diukur dari integritas dan karya”. Melalui kutipan tersebut dapat dipahami bahwa, perempuan masih dijajah sampai saat ini. Namun, bentukan penjajahannya telah berubah. Secara sadar atau tidak sadar, perempuan lebih menghargai kecantikan, sehingga ia membiarkan dirinya dijajah oleh fashion.

Soe Hok Gie sebagai salah satu aktivis pernah menyatakan bahwa apabila yang dipikirkan perempuan hanyalah baju dan kecantikan, maka perempuan akan selalu ada di bawah laki-laki. Karena jika hal prioritas bagi perempuan hanyalah produk fashion dan kosmetik, maka keleluasaan yang diberikan pada perempuan, tidak akan digunakan untuk mengembangkan potensinya dan menciptakan karya, melainkan perempuan akan terjebak ke dalam hal yang sebenarnya merendahkan juga posisinya. Perempuan beranggapan, akan semakin dihargai bila dirinya cantik dan modis, bukan perempuan yang mampu memiliki peran dan pengaruh pada lingkungan atas sikap dan karyanya. Pada akhirnya, gerakan feminisme yang digaungkan menjadi salah diartikan. Perempuan dberikan ruang publik, justru bukan untuk mengembangkan dirinya melainkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan fashion dan kosmetiknya, untuk mempercantik dirinya.

Seharusnya perempuan dapat memanfaatkan keleluasaan di ruang publik yang diberikan padanya untuk berkarya. Salah satu bentuk dari peran perempuan dapat diketahui pada gerakan yang dilakukan pada tanggal 22 Desember di tahun 1928. Pada saat itu, perempuan muda berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya mengenai hak perempuan dan kepedulian perempuan terhadap kaum sesama perempuan.

Sejarah mencatat kesadaran untuk merdeka dan peningkatan kesejahteraan hidup rakyat dimiliki oleh segenap anak bangsa, termasuk kaum perempuan. Bukti dari peran perempuan yang turut serta memikirkan hak bangsanya adalah munculnya berbagai organisasi wanita yang tujuannya memperjuangkan hak rakyat pribumi, terutama hak perempuan dan anak-anak. Untuk mengkrucutkan orientasi perjuangan perempuan Indonesia, seluruh organisasi wanita yang ada bersatu dan menyelenggarakan kongres dengan nama Kongres Perempuan Indonesia. Kongres Perempuan Indonesia I diselenggarakan pada 22 Desember 1928. Beberapa hal yang diperoleh dari kongres ini diantaranya(Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2011: 37) :

Mendirikan Badan Federasi bersama “Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia”Menerbitkan surat kabar, yang redaksinya dipercayakan kepada pengurus PPPI.Mendirikan Studie Fonds yang akan menolong gadis-gadis yang tidak mampu.Memperkuat pendidikan kepanduan putri.Mencegah perkawinan anak-anak.Mengirimkan mosi kepada pemerintah (Hindia Belanda), agar:Secepatnya diadakan fonds bagi janda dan anak-anakTunjangan bersifat pension jangan dicabutSekolah-sekolah putri diperbanyakMengirimkan mosi kepada Raad agama agar tiap talak dikuatkan secara tertulis sesuai dengan Peraturan agama.

Peristiwa tersebut memberikan andil besar bagi warna kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenang jasa perempuan dalam upaya perjuangan bangsa, tanggal 22 Desember dijadikan sebagai hari ibu. Hal tersebut dilakukan agar perempuan insyaf bahwa perempuan memiliki peranan yang besar, bukan hanya berkutat pada kecantikan secara fisik. Ruang publik yang diberikan pada perempuan seharusnya digunakan perempuan untuk berkarya bahkan untuk berperan serta bagi kemajuan kaumnya. Karena sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa masih ada pihak yang belum berpihak pada kemajuan perempuan. Perempuan dipasung untuk sekedar cantik secara fisik.

Perempuan Hari Ini

Pada saat ini telah banyak juga perempuan yang menggunakan haknya dengan bijaksana. Perempuan dengan jenjang pendidikan tinggi, telah mampu berperan serta dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun jumlahnya masih lebih rendah, namun telah banyak perempuan yang mampu menunjukkan prestasinya dalam bidang yang digelutinya.

Ketepatan perempuan dalam memanfaatkan haknya secara maksimal, yang ditunjukkan dengan karya yang dihasilkannya, telah memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Selain itu, penelitian dan kajian seputar perempuan pun telah banyak dilakukan oleh sesama perempuan. Hal ini tentu saja perlahan-lahan akan membuka mata publik mengenai hak perempuan yang masih dipasung atas nama sosial budaya ataupun agama yang disalah artikan. Data yang diperoleh secara ilmiah tersebut diharapkan akan mempengaruhi kebijakan untuk semakin pro terhadap hak perempuan.

Selain itu, di pelosok-pelosok desa juga dapat ditemukan perjuangan sesama perempuan yang berupaya memberdayakan perempuan lainnya yang ada di lingkungannya. Hal tersebut dilakukan agar perempuan dapat memiliki pengetahuan yang cukup dalam membangun rumah tangga dan juga berkarya. Karena pada dasarnya, perempuan adalah juga manusia yang sama dengan laki-laki, perempuan memiliki berbagai potensi dan kemampuan yang dapat diasah dan diarahkan untuk menghasilkan karya.

Perempuan memiliki kompetensi yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan diri. Namun sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, perempuan memiliki sisi yang hanya dimiliki perempuan, pun juga dengan laki-laki. Hal tersebutlah yang kemudian salah dipahami, untuk disetarakan. Laki-laki memiliki kemampuan fisik lebih kuat dari perempuan, maka kodrat utamanya adalah mencari nafkah. Sedangkan perempuan secara mayoritas memiliki kemampuan fisik yang tidak lebih kuat dari laki-laki, namun perempuan memiliki sifat halus yang dibutuhkan untuk mengurus keluarga. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga juga adalah hal yang penting, karena merupakan organisasi sosial terkecil yang akan mempengaruhi kemajuan masyarakat.

Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kodrat masing-masing sehingga jika disatukan akan saling melengkapi. Pemahaman kesetaraan gender yang digaungkan oleh dunia barat, bagi Ki Hajar Dewantara adalah tidak sepenuhnya benar. Hak perempuan memang perlu diperjuangkan, agar perempuan dapat terjamin mendapat kehidupan yang layak, perlakuan yang layak dan kesempatan untuk berkarya dengan leluasa. Namun, kesemuanya disesuaikan dengan kondisi kodratinya, seperti kondisi fisiknya, sifat dasarnya. Hal inilah yang perlu dipahami oleh perempuan hari ini.

Perempuan hari ini sudah semestinya memahami kodratinya dengan lebih objektif. Kemudian yang perlu dilawan adalah kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dan menghasilkan karya. Sudah semestinya, hak yang diberikan pada perempuan digunakan untuk berkarya dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat sekitar, dengan tidak melupakan kodratnya sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya dan juga penjaga keluarga agar tetap berada dalam naungan kasih sayang.

Roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisybahna memberikan pemahaman yang bijaksana mengenai peran serta perempuan. Perempuan yang menghargai dirinya, tidak hanya dipersempit dengan yang aktif di ruang publik, seperti berorganisasi dan memikirkan kongres demi kongres atau karir dan karir. Sutan Takdir Alisyabahna memberikan contoh sosok Ratna, sebagai perempuan yang sebelum menikah sangat aktif dalam berbagai kongres, perempuan yang lantang mengemukakan gagasannya di forum, hingga semua orang terkesima dan memperkirakan bahwa Ratna akan menjadi pimpinan kongres yang lebih besar lagi.

Namun, ternyata ketika telah menikah, Ratna memilih tinggal di desa terpencil hidup sederhana bersama suaminya. Ratna bukan berubah menjadi seorang pragmatis, melainkan ia telah sampai pada puncak pemahaman yang tinggi mengenai kodrat dan potensi perempuan. Di sela-sela kehidupan hariannya, Ratna masih aktif menulis di surat kabar maupun majalah untuk menuangkan gagasan-gagasannya yang masih tajam. Ia tahu betul bahwa masih banyak yang dapat ia kemukakan bagi perbaikan kehidupan perempuan, salah satunya dengan menulis. Menulis menjadi senjata untuk bagi Ratna untuk memberikan pemahaman pada dunia mengenai perempuan. Sosok Ratna mengajarkan bahwa kodratnya tidak pernah memasungnya untuk berkarya. Ratna mengupayakan dapat menjalankan kodratnya dengan juga menghasilkan karya melalui gagasan-gagasan yang cemerlang.

Melalui hal tersebut dapat dipahami bahwa yang harus diilhami perempuan hari ini adalah kodrat dan potensinya. Perempuan yang memilih untuk berkarya dan berkarir secara totalitas di ruang publik perlu memiliki peran serta juga bagi keluarga dan lingkungannya. Perempuan berkarir tidak hanya menjebakan diri dalam dunia fashion dan kosmetik. Karena banyak hal yang dapat perempuan lakukan. Demikian pula dengan perempuan yang lebih memilih berada secara total di ruang domestik, tidak dapat dipandang sebelah mata. Perempuan masih dapat berkarya dan menghasilkan berbagai manfaat bagi lingkungan, baik dengan menulis atau dengan menghasilkan hal lain. Karena pada saat ini telah banyak media untuk menyalurkan kemampuan diri, baik dalam menghasilkan karya tulis maupun menghasilkan produk bermanfaat. Hal tersebut semata-mata dilakukan sebagai wujud perempuan menghargai dirinya. Jika perempuan menghargai dirinya yang dibuktikan dengan karya yang dihasilkan, maka publik juga akan menaruh penghargaan yang tinggi terhadap perempuan atas karyanya, dan bukan karena kondisi fisiknya semata. (*Octy)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close