BERITA TERKININASIONALORGANISASIPENDIDIKAN

Orang Tua, Anak dan Karakter

PetaBanten.com – Orang tua, adalah sebuah pangkat dan derajat luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada makhluk-Nya. Suatu amanah besar dimana satu kegagalan akan berefek seumur hidup. Dimana setiap waktunya adalah tentang belajar untuk membentuk satu generasi beradab yang akan berkesinambungan pada generasi berikutnya. Sebuah perjuangan untuk mendapatkan pangkat dan gelar “Orang Tua” terkadang tidak disadari oleh sebagian dari kita, karena sebagian orang yang lain mengupayakannya dengan berbagai cara (medis salah satunya), ada jutaan doa, ribuan amal, serta tempaan diri yang berkali-kali harus dilakukan dan dibentuk.

Dari sejak masa untuk mendapatkannya adalah sebuah perjuangan, maka kemudian setelah memperolehnyapun adalah perjuangan pula. Dimana sebagai orang tua, kita dituntut menjadi role model dalam penanaman dan pendidikan karakter anak. Mau seperti apa karakter anak yang kita inginkan, disitulah kita harus menjadi karakter itu sendiri. Bagaimana cara kita berkomunikasi untuk saling memahami serta bekerjasama, menumbuhkan rasa bahagia, rasa percaya diri, menanamkan nilai-nilai agama, serta membentuk kedisiplinan dan rasa bertanggungjawab. Itu semua hanya sebagian kecil yang harus dijalankan dengan berbagai metode jitu yang sesuai pada tiap fase usia anak. Mau tidak mau, orang tua akan tertuntut untuk terus mempelajari berbagai fase pola pendidikan terhadap anak, karena setiap fase pertumbuhannya tidak akan pernah terulang kembali. Saat kita telah memahami satu fase, disaat itu anak sudah berganti pada fase berikutnya, disinilah kita terus belajar dan belajar kembali.
Dalam menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter terhadap anak, diperlukan kekompakan orang tua dalam menerapkannya secara berulang-ulang. Diantaranya karakter bertanggung jawab dan disiplin yang dibentuk dengan kebiasaan yang diulang setiap hari dan tidak kalah pentingnya adalah orang tua berperan langsung sebagai role model dalam penerapannya. Reward and punishment sederhana juga dapat dilakukan, agar anak belajar menentukan sikap, memahami manfaat dan konsekuensi atas apa yang dilakukan. Saling bicara juga bisa menjadi faktor pendukung, agar orang tua dan anak saling memahami maksud tujuan dan pemikiran atas penerapan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu sendiri, dapat mendorongnya menjadi percaya diri dan berani mengambil keputusan. Orang tua bisa secara perlahan memberikan dorongan dan mendampingi saat anak berani belajar mengambil keputusan dan resiko.
Aktivitas lainnya adalah mengontrol atau membatasi anak menonton dan bermain game. Pengawasan ini merupakan hal yang penting, karena anak cenderung lebih pasif dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta orang tua tidak dapat menyaring secara maksimal aktivitas tersebut (apa yang ditonton dan dimainkan). Sebenarnya mainan terbaik bagi anak adalah orang tuanya sendiri. Disaat orang tua bermain dengan anak, akan ada lebih banyak eksplorasi dan kreatifitas serta interaksi dalam menjalin kedekatan, menunjukkan rasa kasih saying, serta menunjukkan keberadaan orang tua terhadap anak.
Tidak kalah pentingnya juga dalam aktivitas membaca dongeng. Perlu diketahui oleh orang tua bahwa tidak semua dongeng sesuai dengan budaya kita. Ada bagian-bagian dongeng tertentu yang tidak sesuai bila disampaikan atau diceritakan kepada anak. Ada juga nilai moral tertentu yang kurang sesuai dengan apa yang kita ajarkan kepada anak. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua untuk menelaah terlebih dahulu cerita-cerita dongeng yang hendak disampaikan. Kategorisasi atau pemilahan dongeng berdasarkan usia dan budaya sangatlah penting untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan ini.
Dalam waktu melakukan kegiatan bersama anak, orang tua bisa menerapkan dan menyisipkan nilai-nilai atau pengajaran kebaikan terhadap anak dalam tujuan membentuk anak dengan karakter yang baik. Masa bermain dengan anak bisa dibilang merupakan waktu yang singkat (tidak sampai 15 tahun) dan setelah itu anak akan memasuki masa dewasa, anak cenderung mengurangi waktu bermain mereka dengan orang tua dan memilih lebih sering beraktivitas dengan komunitasnya. Maka tidak ada salahnya jika orang tua lebih banyak meluangkan waktu untuk berkegiatan bersama anak, karena orang tua adalah sekolah pertama bagi anak, tempat filtrasi budaya dan pembentukan karakter yang utama.

Ike Wisnu Wijayanti
KOHATI PB HMI 2018-2020

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close