BERITA TERKININASIONALOPINIORGANISASI

Aku Dan Sudut Pandang Feminisme

Oleh: Octy Avriani Negara

KOHATI PB HMI

Secara general, menurut pemahaman saya, feminisme adalah gerakan untuk mencapai kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Gerakan ini timbul sebagai reaksi atas adanya perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan diantaranya dalam mengenyam pendidikan atau memperoleh pekerjaan. Pandangan orang-orang terdahulu adalah bahwa perempuan tidak patut mendapat pendidikan tinggi ataupun pekerjaan layak karena tempat perempuan adalah di dapur dan di rumah untuk mengurus suami dan anak.

Pandangan seperti ini jelas merugikan perempuan. Dalam hal ini saya setuju.

Saya rasa paham seperti inilah yang akhirnya mendorong lahirnya gerakan feminisme.

Di Indonesia sendiri, perempuan yang merupakan pelopor gerakan feminisme adalah R.A Kartini. Beliau memperjuangkan hak kaum perempuan agar dapat mendapatkan hak yang sama seperti lelaki.

Nah, lalu, bagaimana Islam memandang feminisme?

Menurut saya, sesungguhnya Islam sudah mengatur dengan sangat baik tentang hak laki-laki dan perempuan. Bahkan di Al-Qur’an pun sudah sangat jelas bahwa Islam mengistimewakan kaum perempuan. Hal itu terbukti dengan adanya QS. An-Nisa. Islam juga sudah mengatur dengan jelas hak perempuan misalnya pada pembagian harta warisan, sistem pernikahan, perceraian, hingga pergaulan yang sejatinya berguna untuk melindungi perempuan. Sayang sekali bahwa di masa ini feminisme disalahartikan sebagai kebebasan perempuan secara sepenuhnya. Banyak sekali perempuan yang tersesat dalam pemikiran bahwa karena perempuan setara maka perempuan bisa sama kuatnya secara fisik maupun kekuasaan dengan laki-laki. Padahal, memang kodrat perempuan adalah sebagai pendamping laki-laki yang memang diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi para perempuan, bagi keluarganya.Namun hal itu tidak berarti martabat perempuan lantas diinjak-injak dan tidak dimuliakan Islam. Contoh sederhana, pernahkah kita melihat perempuan menjadi imam shalat bagi laki-laki? Tentu tidak pernah, kecuali mungkin memang ada ajaran sesat yang mengizinkan hal itu terjadi. Lalu, dengan menjadi makmum, apakah harga diri kita sebagai perempuan dilecehkan?

Fenomena ini juga berkembang dalam lingkup rumah tangga. Banyak sekali perempuan saat ini yang ingin bekerja dan berkarir sehingga ia menjadi sangat independen secara finansial dan akhirnya merasa tidak membutuhkan laki-laki lagi, lalu rumah tangganya berantakan. Islam mengatur bahwa perempuan boleh bekerja, tetapi tidak wajib. Jika lebih banyak mudharatnya maka sebaiknya tidak usah bekerja.

Dulu, saya termasuk satu dari banyak perempuan yang ingin menjadi perempuan superior. Yang tidak bergantung pada laki-laki agar saya tidak diinjak dan dilecehkan. Perempuan yang berdikari secara finansial atau bahasa kerennya wanita karir. Sekarang, setelah banyak hal yang saya alami dan amati dalam hidup, saya sampai pada satu kesimpulan: cita-cita tertinggi saya adalah menjadi istri yang taat pada suami dan ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak. Ya, mungkin sebagian akan menganggap pemikiran saya tidak luas. Tapi saya tidak perduli. Waktu tidak bisa diulang, dan jelas saya tidak akan menyia-nyiakan waktu yang saya miliki. Manakah yang lebih membahagiakan dari mendukung dan mendampingi suami meniti kesuksesan dan melihat anak kita tumbuh menjadi anak cerdas yang taat pada agamanya? Saya rasa hal seperti itu tidak dapat digantikan dengan apapun.

Tapi, itu tidak berarti saya membatasi diri dan tidak akan berkegiatan. Saya tetap akan berkegiatan di rumah. Mengisi waktu dengan hal berguna yang syukur-syukur bisa menguntungkan. Saya juga tetap akan mengejar pendidikan saya setinggi mungkin. Agar nanti, jika anak-anak saya sudah besar, mereka termotivasi untuk mendapat pendidikan yang minimal setara dengan saya.

Kesimpulannya adalah bahwa kita sebagai perempuan, boleh mendapat hak yang sama dengan laki-laki dalam hal tertentu namun tetap tidak boleh melupakan posisi dan hakikat kita sebagai perempuan. Jangan sampai iming-iming paham feminisme dan gemerlap dunia membutakan mata hati kita dan membuat kita ingkar pada kodrat kita sebagai perempuan sesungguhnya.

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Close
Close